Arti Puisi

Mengerti apa


Ini puisi, bukan puisi, puisi, tidak puisi, puisi, puisi, puisi. Mengerti apa arti puisi tak jelas terus di pahami, Dari mata menjulang kaki bertanya apa puisi apa puisi apa puisi. Tanpa hati sampai kepala bertahta lingkaran api terus mencari kemana di mana arti puisi. Puisi tak indak berlari mutiara kata, lahir di hulu hati bertebaran imajinasi tanpa tak pasti, bahasa cahaya kata bahasa jujur hati terajut benang seni lahir alami bersumber murni… sanubari. Pantas bila puisi indah kata rentetan antrian kata kata mutiara siap baca, pantas bila puisi prosa sajak memabuk pembaca menggontai terlena dari alunan irama kata kata …? Siapa tau arti puisi ku bertanya puisi, selalu puisi puisi puisi dan,.

Puisi Kehidupan : Arti Kehidupan, Renungan

Hidup Itu….. (Praktek)



Kenang lama tengah keheningan
Di kelam kesunyian malam
Hanya menggaung kaki tak terperanjak
Membisu di pertapaan malam
Sampai denting hati di titik nol
Arti hakiki di cari cari
Ayat ayat kasih di peluk

Melukis kabut tanpa dimensi
Di berapa langkah tubuh singgah
Seberapa jauh jejak sampai manusia lacak
Hidup itu hidup
Hidup tak di kata

Menuai sepenggalah kata dengan memecah asa kemustakhilan
Selaksa angan  buta
Larut di arus deras mimpi
Jauh menjauh
Semakin jauh diri memandang hati
Menilai diri semakin asing



NB : Dari kata yang jauh terpelesat mungkin tak kau temukan arti tersirat, dari sajak sajaknya hanya dialog setan yang tak terjemahkan,kata kata pedat,sesat.pergelaran kata kata tersendat di saat saat istirah. Beragam arti kehidupan, ketahuilah ia tetap dan terus berjalan, hilangkan arti teori,hidup itu praktek ( tak hanya sekedar perjuangan ).Bahkan tak enggan orang beranggapan hidup itu sudah susah,kenapa juga masih kau pikirkan yang susah susah ( arti kehidupan ). Di rambatan renungan kesunyian berpautan setitik pencerahan ” Laa Yukallifullohu Nafsan Illaa Wus aha ”
( sajak kolankolis)

Buku

BUKU


Buku
Kenapa kau buku,apa kau buku
Akulah diriku kamu tetap buku
Kemana arah langkahku,tongkatku ilmu
Kemana hilang ilmu tanpamu buku

Buku
Serius dendamku buku
Meluap lantahkan amarahku buku
Terima ia, balasanku buku

Buku
Di rahim waktu,penjarakan ilmu

Buku
Ada… setiap lembaran
Menengadah kata bersama rambatan usia
Tak renta di makan lamanya
Tak senyap… tak lenyap
Di genta angin bersamamu ada
Mengabadi selamanya

Puisi Kata

Sastra Jenuh

 

Membongkar kata kata, berantakan….
Memporak porandakan susunan susunannya.
Memilih setiap kata kata yang ada….
Mencari kata kata yang bermakna…
Merangkum,menyusunnya menjadi kata sastra…
Ah…. Susah,susah juga ternyata
Mudah tangan membalikkan telapaknya…
Kenapa tidak untuk mencipta sastra…?
Hanya sekedar merangkum kata kata berarti
Bukan untuk semua orang bisa dimengerti
Cukup bagi diri ini…
Wakil hati ini….,jembatan luapan hati ini
Ah…. Mudah kata terucap
Mudah kertas putih tertulis kata kata
Tapi….
Huh…. Ternyata begitu ternyata
Dari sastra yang terucap,begitu mudah terungkap
Tapi kenapa begitu susah tercatat dalam lembaran lembaran kertas putih,,?
Dan….
Dari  lamanya… kenapa begitu mudah kata kata berserakan
Tercampur dengan sampah,kerikil,batu,… begitu berantakan
Kenapa setiap kata kata yang terikat … begitu mudah lenyap
Sirna…. Tertindas hinaan kehidupan
Atau….
Ku hanya tak peduli lagi
Lagi lagi prosa tak mutu tercantum di layar monitor ini
Atau ku tanggalkan saja sastra tanpa makna
Bukan dan jangan jawabannya
Sastra begitu berarti dari arti kata seni
Meski hanya segenggam imajinasi, tapi itu ekspresi
 
 
NB: hanya unek2 tak berarti….

Lain ladang lain belalang, lain negara lain budaya,lantas bagaimana dengan sastra.begitu susah menggabungkan perbedaan budaya sastra sehingga mampu di terima kita dan masyarakat umum.Bagaimana dengan sastra china kuno? apakah bisa di terima di indonesia.jawabnya per individu,bukan kelompok. agrh….. tanggalkan saja kata kata tak bermakna, ganti dengan celotehan kata kata….

 

Puisi Malam

Malam Sunyi

 

Kenapa kau mencari…

Aku di sini…

Terpaku… diri sendiri…

Dari sepi…

 

Kenapa kau mengejar…. Halusinasi

Menyekat imajinasi…

Tak pasti…

Ilusi…

Puisi…

 

Menggelar sajadah sunyi…

Tengah sepi…

Teriakkan malam ini…

Hunuskan puisi…

Sekarang… ku tak sendiri

 

 

 

Malam ,,, Puisi

 

Membilah kata

Lunar redup bola mata

Malam begini,,,

Masih kau menghiraukan puisi

Tak memaksa

Lelah tlah terasa,,,

Nyeri… aduh…

 

Tari pena tak menghenti tinta

Lahir cahaya kata

Lentik jari terus menari….

Sudut kanan,,,

Sudut kiri,,,,

Penuh,,,

Kosong terisi…

Sastra edan

EDAN

 

 

Buka mata buka telinga

Tidak usah,tak di buka jua sudah terbuka dengan sendirinya

Tak ada usahaku menutup mata

Tak pernah sengajaku menutup telinga

Dengan mereka ku melihat,ku mendengar

Tapi hati ini hanya diam,tak bicara

Enggan mengangkat kata

Tak mau melontarkannya dalam koran berita

Apa lagi di halaman muka sastra, ah… terlalu mengada ada

Dari kata yang meronta hanya kata biasa dan sederhana

 

Membuka muka,,, eh salah…harusnya

Belah wajah,mengalir darah,mencuat otak..

Memberontak bersamanya semua serempak..

Dasar… sastra edan… tak beraluran… main enaknya saja

Tak heran… karena di tulis edan… dengan penulisnya jua edan

Oi,,, sastrawan edan jangan sembarangan,sudah edan ya?

Kenapa edan.. kenapa datang edan…

Tak hilangkah kau dengan ketiadaan… kenapa datang edan

Melekatnya bersama kehidupan,bersekutu kezaliman

Bersembunyi di kursi kekuasaan

Dari panggungnya mencuat keras kata kata persamaan

Persamaan…paersamaan… tak lebih dari arti perpecahan

Menghapus semboyan ke BHINEKA TUNGGAL IKAan…

Meski edan ku tak lupa.. itu modal kemerdekaan

 

Masih kurang….. menjerit histeris kata perdamaian

Damai… damai..,dari kerasnya membuah ketakutan

Tak di deklarasikanpun semua orang menginginkan

Damai… damai… dari jalannya menempuh yang berlawanan

Dari semangatnya mencipta peperangan

 

Kalah pelangi dengan warna edan

Tak ada lagi mentari pagi.. kalahnya dengan kebringasan pandangan edan

Melepuhnya kehidupan berakar dari kepemimpinan edan

Sekarang ku tak lagi heran… ku hidup di peradaban zaman edan

Enggan menyimpan kata kata edan dalam dompet,pengganti isi dalamnya

Kalau ku simpan kata kata edan di dalamnya,hilang seluruh isinya

Uangku,,, atmku,,, mungkin ktp dan foto keluargaku lenyap di makan edan

Dasar edan…

Puisi Cinta:Makna Cinta (Valentine)

Puisi Valentin Makna Cinta


Kata kata di manja sayang

Tapi cinta kian tak kunjung datang

Kata kata di manja sayang

Ku bukan pujangga,tapi ku merindukannya

Merindukan kasih cinta

Cintanya kaum hawa


Kata kata di manja sayang

Ku juga bukan sastrawan,salahkah ku bila menanti harapan…?

Harapan di masa depan

Melekatnya cinta bersama kehidupan


Menapak kata demi kata

Mengikat untaian kata kata cinta

Di hari penuh kasih dan cinta

Coba ku mengungkap makna kata cinta


Menapak kata demi kata

Apa arti sastra tanpa cinta padanya

Hidup membuta melepas kasih darinya

Kasih cinta…


Mewangi cinta menghias dunia

Berakhir cinta kiamat dunia

Menerang terang dunia bersamanya cinta

Bersama cahayanya…. Cahaya cinta


Cinta yang kan selalu ada

Tak pernah pudar selamanya

Seiring bumi ada

Melekat cinta bersamanya

42c-copy

Puisi Cinta:Hari Cinta (Valentine)

Puisi Valentin


Ku ingin menulis puisi…

Tentang cinta…

Semua kata habis di baca

Lenyap imajinasi setiap kata kata

Tak ku temukan dari samudranya


Atau tentang hadirnya cinta…

Sekarang ku tak merasakanya

Tentang harinya cinta…

Mungkin ku pernah mengalaminya

Di sini hanya tersangkut dahan kata kata darinya


“Cinta…. Dengarkan…!”

“Harimu tiba… sambutlah ia…!”

“Harimu melekat mutiara kesucian”

“Hadirmu menabur kasih setiap kerinduan”

“Memeluk hangat bersama sayang”

“Mewarnai singgasana kehidupan”


“Mekar mawar waktu senja…”

“Memberi saksi harimu tiba”

“Mendampingi setiap untaian kasihmu”

“Memaknai belaian indahmu”

“Melambangi arti hidupmu”

“Sambutlah valentinmu!”


“Hari ini tiba…”

“Harinya cinta….”

“Melantun irama cinta”

“Memekar bunga”

“Sepoi angin menyelimutinya”

“Menari awan bahagia di siangnya”

“Di malam bekedip bintang mewarnainya”


“Indah menyambut cinta”

“Indah merasakanya … Cinta…”


Sampai sini ku tak mengejar kata

Yang ada hanya buaian cinta di dada

Ku tak ingin menuliskanya

Hanya gombalan kata dari cinta

Ku jua tak merasakanya

Hari ini juga…

Karena cintaku .. tak lebih tuk keluarga

Puisi Kata: Kata Hati

Kata hati

 

 

Kala hati berkata…

Mendengarkah telinga..?

Taukah mata…?

Apa kata dia taukah kita…?

Taukah manusia…?

 

Terucap kata suara lantang

Hati coba memahami

Menelan dalam…

Tak di rasa mulut yang bicara

 

 

Satu pertanyaan tuk kalian… pernahkah diantara kalian yang mendengar suara hati….?

Puisi Kata: Kenapa Puisi

Kenapa Puisi

 

 

Bersama sepi ku sendiri

Ku coretkan pena merilis puisi

Merangkum huruf berbunyi kata

Membentuk kalimat

 

Kenapa datang…

Begitu lenyap ketiadaan

Semakin sunyi ku tak sendiri

Ku berteman puisi…

Kenapa harus puisi….?

Penuhkah imajinasi….?

 

Arti puisi….

Mencari cari yang pasti

A…h masa bodoh amat

Puisi Kata : Bertanya Kata

bertanya-kata1

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.